Berkenalan dengan Suku Dayak Kenyah

Salah satu suku di Indonesia yang aku ingin temui adalah Suku Dayak. Kenapa? karena sewaktu kecil aku melihat orang Dayak di TV dengan telinganya yang panjang. Selain itu pakaian tradisional mereka juga mencolok dan bentuknya beda jauh dengan pakaian adat yang pernah ku lihat. Namanya juga anak kecil, melihat hal seperti itu kan unik ya! berbeda dari biasanya. Jadi bikin penasaran ingin lihat langsung.

Suku Dayak tidak hanya satu tapi ada banyak lho. Salah satunya adalah Suku Dayak Kenyah yang aku kunjungi Desember 2018 lalu di Samarinda. Telat sih baru ditulis sekarang, nggak apa-apa lah ya ;p.

Perjalanan ke Samarinda

Lokasi Suku Dayak Kenyah tepatnya ada di Desa Budaya Pampang, Samarinda. Aku berangkat dari Kota Balikpapan ke Desa Pampang menggunakan mobil. Jarak yang ditempuh sekitar 150 Km dengan memakan waktu sekitar 4 jam 30 menit.

Lama ya? iya lama banget karena tidak ada jalan tol dan jalannya sangat berkelok-kelok. Belum lagi saat masuk pelosok jalanya rusak banget. Saking rusaknnya aku berasa lagi off-road haha. Pokoknya perjalanan Balikpapan – Samarinda membuatku mabuk darat. Oh ya, di tengah perjalanan jangan lupa membeli Tahu Sumedang ya. Lokasinya di jalan raya Balikpapan-Samarinda Km. 50.

Tahu Sumedang di Jalan Raya Balikpapan – Samarinda Km. 50

Senangnya bisa makan Tahu Sumedang di Kalimantan. Rasanya? enak banget! tahu nggak Tahu Tauhid yang ada di Lembang? nah itu dia rasanya. Enak mantap! aku sebagai orang Sunda cukup kaget dengan adanya tahu ini. Karena jarang menemukan tahu Sumedang yang benar-benar enak seperti di Jawa Barat.

Selain melewati Jembatan Mahakam, aku juga berhenti sebentar di Islamic Center Kaltim untuk berfoto. Kenapa nggak masuk? karena waktunya mepet jadi hanya berfoto di depan saja. Kapan lagi kan, sudah jauh-jauh ke sana.

Rumah Adat Suku Dayak Kenyah

Tujuan utama ke Desa Budaya Pampang adalah menuju Lamin Adat Pemung Tawai. Dahulu Lamin Adat Pemung Tawai merupakan rumah adat dan tempat tinggal bersama. Tapi sekarang berubah fungsi menjadi objek wisata pertunjukan kesenian adat Suku Dayak Kenyah.

This slideshow requires JavaScript.

Saat masuk ke rumah adat, ada beberapa warga desa yang menjual aneka sayur segar. Selain itu, pada area tempat parkir rumah adat banyak warga desa juga yang berjualan cenderamata khas Dayak Kenyah. Unik-unik lho! mulai dari tas manik-manik, mahkota khas Dayak Kenyah, bulu landak, kalung dari cula babi hutan sampai dengan obat herbal khas Dayak. Pokoknya kalau beli oleh-oleh di sini dijamin anti mainstream deh.

This slideshow requires JavaScript.

Jadwal dan Tiket Kesenian Adat

Acara kesenian adat di Lamin Adat Pemung Tawai, hanya diadakan pada hari Minggu pukul 14:00 s.d 15:00. Sebelum menonton kesenian adat, kita harus membeli 2 tiket dahulu. Pertama tiket pertunjukan kesenian dan kedua tiket berfoto dengan penari Dayak Kenyah (jika ingin berfoto dengan penari).

Harga tarif berfoto dengan penari Dayak Kenyah adalah Rp 25.000/orang untuk dewasa dan Rp 20.000/orang untuk anak-anak. Sedangkan harga tiket pertunjukan.. duh, mohon maap aku lupa. Tiketnya tidak tersimpan ๐Ÿ™ sepertinya kisaran Rp 15.000/orang deh. Eh atau Rp 25.000/orang ya? lupa pokoknya tidak mahal kok! Setelah membeli tiket aku duduk paling depan, agar bisa menonton puas tidak ada yang menghalangi.

Saat menunggu pertunjukan dimulai, banyak adik-adik Suku Dayak yang sedang berbincang dan latihan menari. Sebagian dari mereka juga menyebar ke pengunjung untuk menawarkan foto bersama. “Kak, mau foto bareng kita?” kata si adik-adik dengan pakaian adat mereka yang lengkap.

This slideshow requires JavaScript.

Tapi aku ragu menerimanya, kenapa? karena takutnya selesai foto akan ditagih uang sesuai jumlah mereka haha. Lumayan juga kan, bikin jebol dompet kalau berfoto dengan 2-5 anak. Soalnya plang tarif foto itu dipajang dan seakan-akan selalu mengingatkan aku, bahwa foto bersama mereka pasti bayar wkwk. Mau nanya “bayar nggak dek?” juga kan kurang enak ya. Akhirnya ditolak saja deh.

Plang Tarif Berfoto

Tradisi Suku Dayak Kenyah

Suku Dayak Kenyah mempunyai tradisi “Telingaan Aruu” atau memanjangkan telinga. Tapi saat melihat di sana, sepertinya sudah jarang yang melakukan ini. Aku hanya melihat satu orang yang sudah sepuh dengan telinga panjangnya. Sedangkan para ibu, bapak dan remaja lain tidak memanjangkan telinganya.

Telingaan Aruu. Sumber: id^wikipedia^org

Beruntung aku bisa melihat Bapak satu itu yang masih melaksanakan tradisi Telingaan Aruu. Keinginanku dari kecil jadi kesampaian deh. Sayangnya tidak sempat aku foto, karena banyak sekali yang antre berfoto dengan Bapak tersebut. Selain itu, Suku Dayak Kenyah juga mempunyai tradisi menato tubuhnya.

Tato tidak bisa dibuat sembarangan pada tubuh warga Dayak Kenyah. Tato merupakan suatu penghargaan pada seseorang terhadap kemampuannya dan juga sebagai status sosial. Misalnya, tato pada tubuh pengembara menandakan sudah berapa jauh dia mengunjungi kampung-kampung yang jaraknya ratusan bahkan ribuan kilometer.

Lalu ada juga tato bangsawan untuk orang tertentu yang biasanya identik dengan gambar burung enggang. Bagi perempuan yang haid pertama kali juga ditato lho, dan melaksanakan upacara adat khusus.

Kesenian Adat Suku Dayak Kenyah

Total kesenian adat yang mereka tampilkan ada 10 tarian. Aku kasih sedikit bocoran nih.. Tari apa saja yang mereka tampilkan di Lamin Adat Pemung Tawai. Sebelumnya, karena tidak paham dengan bahasa Dayak Kenyah aku agak bingung dengar nama tarian-tarian yang diucapkan pembawa acara. Jadi, jika ada kesalahan pada nama tariannya mohon maaf ya cmiiw.

Penampilan pertama dihibur dengan Tari Kanjet Lamaladasan (cmiiw) atau Tari Pembuka. Tarian ini diiringi dengan musik khas Dayak Kenyah dan dibawakan oleh laki-laki yang sudah dewasa, sebagai tanda penghormatan pada wisatawan yang sudah datang secara resmi. Selain itu juga sebagai pembersihan ruangan agar suasana menjadi tenang dan semua penonton bisa menyaksikan dengan suka cita.

Lalu disambung dengan Tari Datun Julut atau tarian selamat datang untuk wisatawan yang sudah datang. Tarian ini ditampilkan oleh beberapa remaja wanita warga Desa Pampang, untuk memperlihatkan keramahtamahan masyarakat Desa Pampang.

Tari Datun Julut

Selanjutnya Tari Ajay atau disebut juga tarian perjuangan. Tarian ini dibawakan oleh para remaja laki-laki dan adik-adik kecil, dengan senjata mereka yaitu Mandau bersama dengan perisainya.

This slideshow requires JavaScript.

Tari Ajay menggambarkan perjuangan dalam kehidupan untuk meraih kesuksesan dan berjuang mempertahankan apa yang sedang diraih. Tari ini banyak teriakan, gebrakan yang lumayan bikin kaget dan bikin semangat.

Setelah itu ada Tari Enggang yang dibawakan oleh remaja-remaja perempuan Suku Dayak Kenyah. Tari ini menggambarkan kehidupan yang rukun antar masyarakat. Layaknya burung Enggang, yang badannya besar tapi tetap ramah dan tidak memangsa burung-burung kecil lainnya.

Tari Enggang

Nah, paling unik adalah Tari Anyam Tali. Tali anyam sudah tergantung di tengah ruang Lamin Adat Pemung Tawai sebelum acara dimulai. Para penari wanita akan menari sambil mengepang/menganyam tali warna-warni dengan ujung simpulnya Burung Enggang.

This slideshow requires JavaScript.

Burung Enggang diartikan sebagai pemimpin dan tali warna-warni yang dikepang artinya berbeda-beda suku tapi tetap bersahabat satu sama lain. Bagian terseru dari tarian ini yaitu penonton boleh ikut mencoba tarian tersebut bersama penari.

Terakhir nih, tarian paling meriah yaitu Tari Pampang Rakyat. Tari ini dimainkan oleh 14 orang penari wanita yang melompat-lompat di atas kayu ulin yang digebrakan. Saat melompat-lompat kaki penari tidak boleh sampai terjepit. Biasanya aku melihat tari ini dimainkan dengan alat yang berbeda, yaitu dengan bambu dan dimainkan para lelaki dewasa. Tapi Suku Dayak Kenyah memilih kayu ulin, karena suaranya yang nyaring dan menakutkan.

This slideshow requires JavaScript.

Tarian ini memang terlihat berbahaya, karena kaki bisa terjepit seiring gebrakan kayu ulin yang semakin cepat dimainkan. Tapi hebatnya Suku Dayak Kenyah belum pernah ada yang cedera dari tahun 1991. Tari ini masih dilestarikan karena mempelajari banyak hal salah satunya melatih kekompakan dan keberanian agar terhindar dari marabahaya. Penonton juga diajak menari bersama lho!

Masih ada beberapa tarian menarik lainnya yang ditampilkan di Lamin Adat Pemung Tawai. Tidak hanya remaja dan anak-anak kecil, tari lainnya juga dibawakan oleh para Ibu Suku Dayak Kenyah.

Nah, sesudah pertunjukan selesai kita bisa berfoto bersama dengan para penarinya, dengan tiket foto yang sudah dibeli tadi ya. Jangan sampai tidak ada tiket fotonya! Seperti pengalaman aku yang miss komunikasi soal foto-foto iniย  yang sebenarnya malu kalau diingat-ingat haha.

Jadi sebelum acara dimulai aku dan keluarga hanya membeli tiket pertunjukan saja. Sedikit bingung juga karena tidak ada plang biaya tiket pertunjukan (hanya ada plang tarif foto saja). Setahuku yang sudah googling sebelumnya, tidak dapat info juga berapa bayar pertunjukan tersebut. Aku akhirnya bilang ke keluarga “Ini kalau mau foto beli lagi nih tiketnya”. Keluargaku jawab “Lho, nggak usah, ini sudah bisa dipakai untuk berfoto sama penari nanti”. Bingung kan?

Akhirnya aku bertanya kepada Bapak yang mengurus tiket, saat itu kondisi sedikit berisik karena banyak orang yang lalu-lalang dan Bapak itu juga sedang sibuk dengan jual beli tiket. “Pak tiket ini bisa dipakai foto juga ya?” tanya aku. Pendengaran aku, Bapak itu menjawab “Iya bisa”. Ok,ย  lanjut lah aku menonton sampai habis.

Selesai berfoto-foto dengan penari di akhir acara, si penari meminta tiket foto dan aku berikan tiket pertunjukan. Seketika para penari berubah raut mukanya jadi jutek haha. “Bukan yang itu Mbak, ada lagi tiket khusus foto” kata si Penari. Waduh benar kan harus beli juga ternyata, akhirnya aku bayar cash ke penarinya :’) malu banget. Mbak-mbak penari di sana maafkan aku yang tidak tahu ini ya. :’) Foto-foto sebelum dijutekin:

Alhamdulillah, meskipun ada momen malu tapi tidak menyesal jauh-jauh datang ke sini. Selain menambah ilmu tentang kebudayaan Suku Dayak Kenyah, segala keunikan dan kesenian adat Suku Dayak Kenyah sudah menghibur aku dan keluarga. Kalian yang sedang di Kalimantan Timur jangan lupa jadwalkan mampir ke Desa Budaya Pampang ya!

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)

%d bloggers like this: